Jumat, 29 Agustus 2008

Komunikasi Politik TV?

"Tidak ada partai yang tertarik dengan orang bersih seperti saya!" kata Ratna Sarumpaet dalam penampilannya di acara The candidate, Metro TV, Kamis (28/8/08) pukul 19.30 WIB. Saya yang nonton sambil makan indomie nyaris saja tersedak. Komunikasi politik di televisi kita menjelang pemilu 2009 sungguh menunjukkan kegairahan yang luar biasa. Pernyataan-pernyataan, jargon-jargon, retorika-retorika berlompatan, riuh, bersilang-sengkarut, memantul-mantul bak bola liar, menggema ke mana-mana. Tiba-tiba kita mendapat pembelajaran tentang politik, demokrasi dan lain-lain meskipun lebih sering kita merasa yeah agak muak, bosan dan apatis dengan apa pun yang kita dengar dan saksikan di layar kaca.

Tapi, kalau kita melihatnya sebagai "sekedar tontonan", kadang kita merasa geli, geleng-geleng kepala, heran, dan tak habis pikir betapa sibuknya orang-orang itu merusaha untuk berkuasa. Kita iseng, menimbang-nimbang, berapa biaya yang mereka habiskan untuk membuat iklan-iklan itu, untuk mendapatkan simpati massa dan popularitas, dan dari mana mereka mendapatkan dana itu. Sayangnya, kadang-kadang sebagai "sekedar tontonan" pun, komunikasi politik di TV, dalam berbagai bentuknya, banyak yang tidak menarik.

The Candidat dibawakan oleh Fifi Aleida Yahya. Menampilkan seorang tokoh yang sedang mencalonkan diri sebagai presiden RI pada pemilu 2009. Sang tokoh "diuji kompetensinya" oleh orang lain, yang tentunya "tokoh" juga. Pada edisi Ratna itu, saya belum melihat terjadinya sebuah "kontestasi wacana" yang segar, menggugah dan mencerdaskan. Pada saat yang tepat bersamaan, TV One menayangkan acara bernama "Debat Partai", dalam edisi itu menampilkan Partai Gerindra (diwaliki Fadli Zon) dan Partai Demokrat (saya tidak tahu namanya). Acara ini jauh lebih menyedihkan karena, seperti layaknya acara-acara talkshow di TV kita, menjadi ajang "debat kusir" yang berisik dan bising, tak ada isinya. Setelah menonton dua acara itu secara bersamaan, badan saya jadi meriang. Untunglah, pada pukul 22.00, Anteve menayangkan untuk pertama kalinya edisi baru Republik Mimpi-nya Aa Effendy.

Saya kira ini pembaruan dari versi yang selama ini ditayangkan TV One (setelah pindah dari Metro TV). Ternyata, Republik Mimpi versi Antv ini beda. Tanpa Jarwo Kwat dan Gus Pur, tetap menyertakan Ibu Megakarti dan Si Butet Yogya, dengan pembawa acara Melissa Karim dan tentu saja tak ketinggalan Effendy Gazali sebagai lokomotifnya. Untuk edisi perdana tersebut senafas dengan The Candidat dan Debat Partai, Republik Mimpi edisi baru perdana ini menampilkan kontes para calon. Hampir semua orang yang saat ini sedang mencalonkan diri baik sebagai presiden maupun anggota DPR diundang (termasuk dari kalangan para artis), diberi kesempatan masing-masing satu menit untuk bicara, dengan kekecualian pada Amien Rais dan Rizal Mallarangeng masing-masing 3 menit. Menarik, karena dikemas dengan gaya khas Republik Mimpi yang kocak, nakal dan bersemangat parodis. Acara ini juga mengundang akademisi, wartawan dan mahasiswa untuk mengajukan pertanyaan kepada para kandidat.

Dengan jangkauan, kapasitas dan kualitas masing-masing, ketiga acara yang ditayangkan setiap Kamis malam tersebut setidaknya telah menjadi alternatif bagi iklan-iklan politik yang belakangan ini marak. Kalau Anda bosan dengan "Saya Prabowo Subianto..." atau "Hidup adalah perbuatan..." atau "If there is a will, there is a way..." maka, tonton saja The Candidate, Debat Partai dan Republik Mimpi. Tapi, kalau di Republik Mimpi pun kita lagi-lagi ketemu dengan Si "there is a will" itu, ya anggap saja mimpi buruk. Hehehe.

1 komentar:

Senja Nababan mengatakan...

Horass ito ku...br Nababan dison bah, no piga hamu ito.
kalau ada waktu silahkan datang ke blog ku juga ya ito??